Thursday, February 19, 2009

Jadah Manten

Jadah Manten

Jadah manten, dibaca dari title nya bagi orang Jawa atau orang yang tahu bahasa Jawa, pasti sudah tahu, yaitu Jadah Pengantin. Jadah, dalam ingatanku langsung terbayang bahwa ini merupakan makanan yang terbuat dari beras ketan. Well, konon ceritanya si jadah manten ini merupakan makanan favorit dari Sri Sultan Hamengku Buwono VII. Jadi, jadah manten ini merupakan makanan terkenal dari Keraton Jogjakarta.

Jadah manten sebagai makanan terkenal dari keraton Jogjakarta, lama kelamaan makanan ini terkenal juga untuk daerah sekitarnya. Nah jadilah si jadah manten ini menjadi jajanan pasar juga. Namun sayang untuk saat ini agak susah menemukannya. Padahal makanan ini sangat enak dan mengenyangkan menurutku. Dan perlu dijaga agar tidak punah, karena merupakan makanan khas tradisional. Jadi tetep bernenek moyang, walaupun itu makanan. Apalagi mungkin kalau dikemas dengan cara yang lebih inovatif untuk lebih mengenalkan pada dunia luar, mungkin juga akan menjadi makanan terkenal di belahan daerah ataupun negara lagi. Bukan, bukan tanpa berpendapat seperti ini. Karena kadang disini 'Chiangmai-Thailand' merasa gregetan kalau melihat bagaimana mereka dapat menarik banyak perhatian dari para turis asing yang bisa menambah devisa negara. Padahal dilihat dari sumber daya yang ada di Indonesia, menurutku di Indonesia juga bisa bahkan lebih. Khan bisa juga diupayakan dari makanan. Disini juga dari berbagai aspek, hal hal kecil bisa jadi besar asal ulet, telaten, dan penuh semangat.

Kembali ke Jadah Manten. Dilihat dari resepnya pasti beberapa orang akan beranggapan bahwa ini sama dengan semar mendem. Namun ada yang membedakan, yaitu cara menyajikannya dan proses pembuatan akhirnya. Jadah manten dengan daging ayam atau daging sapi cincang didalamnya membuat rasanya lebih enak dan dengan dibakar terlebih dahulu membuat aroma semakin menggugah selera untuk memakannya. Jadah manten ini juga dilengkapi dengan santan/areh yang membuat lebih gurih. Dan dengan dijepit bambu, membuat penyajian ini memang lebih terlihat tradisional, dan antik.

Jadah manten, ini menurutku paling enak kalau dimakan pas anget-anget gitu, habis dibakar langsung dimakan. Untuk pembakarannya, dibakar diatas arang pasti tambah nikmat dan aromanya makin harus. Jujur, yang kubuat bukan dibakar diatas arang, karena di condo tidak boleh menyalakan api. Mungkin masih bisa diatasi dengan bakar-bakaran di halaman condo, tapi sepertinya juga gak ada tempat bakar-bakaran di bawah. Jadi aku panggang di oven, tapi aromanya tetep dapet walaupun tidak seharum kalau dibakar di atas arang.

Untuk menambah gurih, ketika dibakar, diolesi dengan areh yang sudah dibuat. Sambil di bolak balik. Gurihhh dan haruuummmm.....

Agar jepitan bambunya tidak meregang lepas, diujungnya diikat. Di dalam resep ditulis menggunakan pelepah daun pepaya, namun ada juga yang menggunakan buncis atau kacang panjang. Nah untuk aku kali ini menggunakan ikatan daun pandan.

Jadah manten ini pernah aku makan ketika sekitar tahun 2000 an, dimana aku masih tinggal di Jogja. Kala itu aku membelinya di kaliurang. Nikmat tenan makannya. Dingin, dengan bau bakaran yang harum, laper, banyak temen, weiss lengkap deh. Namun aku tidak tau sekarang, apakah masih ada atau enggak. Mungkin kalau sekedar ketan bakar masih mudah didapat, tapi kalau yang sudah menjadi jadah manten ini, susah kali yah. Berdasar cerita temen disana, jadah manten ini sudah rada susah didapat. Mari kita budayakan makanan tradisional yang antik dan enak ;) Gak kalah kog enaknya dengan makanan barat, kalahnya cuman kalah promosi :D

Resep Jadah Manten yang aku pilih berasal dari sini [http://www.scribd.com/doc/6556399/Aneka-Kudapan]. Berikut aku tuliskan resepnya.

Bahan:
250 gr beras ketan, rendam selama 1 jam
125 ml santan dari satu butir kelapa
1/2 sdt garam
1 lembar daun pandan
tusuk sate dari bambu yang lebar, [aku menggunakan tusuk sate besar, namun gak lebar]
tangkai daun pepaya, [aku menggunakan daun pandan]

Isi:
1 buah dada ayam, rebus hingga matang, angkat suwir-suwir
1 lembar daun salam
2 lembar daun jeruk
1 batang serai, memarkan
125 ml santan
1 sdm minyak untuk menumis

Haluskan:
1/2 sdt ketumbar
2 siung bawang putih
3 buah bawang merah
2 butir kemiri
1/2 sdt garam
2 sdt gula merah

Dadar telur :
4 butir telur
2 sdm tepung terigu
10 sdm air
1/2 sdt garam

Areh:
125 ml santan dari 1 butir kelapa
1/2 sdt garam

Cara membuat :
Isi: panaskan minyak, tumis bumbu halus hingga harum, tambahkan serai, daun jeruk, daun salam, masak hingga harum dan matang. Masukkan ayam suwir dan santan, masak sampai kering, angkat, dinginkan.
Campur semua bahan dadar hingga rata, buat dadar tipis-tipis, sisihkan.
Campur semua bahan areh dan didihkan hingga kental.
Kukus ketan dengan daun pandan sampai setengah matang, keluarkan dari dandang, tuang santan, beri garam, jerang kembali di atas api kecil sampai santan terhisap habis oleh ketan. Kemudian kukus kembali hingga matang.
Penyelesaian: angkat ketan selagi panas, tuang dalam loyang datar setinggi 1 cm, tabur isi hingga rata, tutup dengan ketan lagi, padatkan, lalu potong 3 x 4 cm. Bungkus setiap potong ketan dengan selembar dadar telur. Untuk pemotongan ini, aku sesuaikan dengan lebar dadar telur yang aku buat.
Jepit setiap ketan dengan tusuk sate dari bambu yang terbelah tengahnya. Rapatkan kedua belah bambu dengan sepotong tangkai daun pepaya agar tidak terbuka.
Panggang diatas bara api sambil diolesi santan areh. Pemanggangan ini aku lakukan di oven, karena alasan yang sudah saya kemukakan di atas.

Chera
Chera from Chiangmai, Thailand

Kitchen Cake
Jadah Manten

No comments:

Post a Comment